Ketika kita masuk ke dunia ilmu falak khususnya di UIN Walisongo,
pembahasan yang pertama kali akan kita temui adalah permasalahan tentang
kiblat. Kiblat merupakan arah persatuan umat Islam yang di simbolkan dengan
Ka’bah yang berada di Makkah. Karena letak ka’bah yang jauhnya minta ampun
itulah kemudian muncul permasalahan-permasalah tentang penentuan arahnya.
Beberapa metode pengukuran kiblat dimunculkan untuk memecahkan
permasalahan tersebut. Mulai dari metode zaman bahula yang dimiliki orang-orang
sakti waktu itu, seperti Sunan Kalijaga, Mbah Bolong serta Syaikh Arsyad
al-Banjari dengan cara uniknya yang pastinya sulit bagi kita untuk menirunya.
Di zaman modern ini banyak alat-alat yang bisa mendukung untuk
penentuan arah kiblat, yang paling populer tentunya theodolit. Namun dengan
harga yang aduhai mahalnya itu, bagi para mahasiswa tampaknya perlu nabung
selama masa kulyah untuk membelinya. Terlebih lagi dengan body theodolit
yang besar itu, pastinya perlu perjuangan untuk membawanya.
Disamping theodolit, ada alat bantu pengukur arah kiblat yang lebih
praktis yakni Istiwa’ain dan Mizwala. Dengan memanfaatkan tongkat istiwa’ dan
bidang dial, kedua alat tersebut jauh lebih praktis dibanding theodolit,
meskipun ketelitiannya masih kalah dengan theodolit. Kali ini kita akan mencoba
membandingkan kedua alat tersebut dengan membahasnya satu persatu dari segi
langkahnya dalam penentuan arah kiblat.
Kita mulai dari Istiwa’ain dulu, alat ini di ciptakan oleh maestro
Falak UIN Walisongo, bapak Slamet Hambali. Di sebut dengan Istiwa’ain karena
alat tersebut memilki dua tongkat Istiwa’ yang terpasang di pusat lingkaran dan
satunya lagi diposisi 0˚. Dalam penentuan arah kiblat alat ini menggunkan
perhitungan Arah kiblat Setiap Saat yang merupakan thesis dari pak Slamet
sendiri. Langkah-langkahnya serta contohnya sebagai berikut:
Menyiapkan data dan menghitung azimuth kiblat tempat yang diukur.
Sebagai contoh kita mengukur kiblat di pada payung elektrik MAJT
dengan koordinat:
LT = -60 59’ 1,49”, BT = 1100 26’ 44,79”, BD
= 105, sedangkan koordinat ka’bah adalah:
LM = 210 25’ 20,98”, BM = 390 49’ 34,33, SBMD
nya = 700 37’ 10,57”
Cotan AQ = tan LM . cos LT / sin SBMD – sin LT / tan SBMD = 650
30’ 21,26” U-B
Azimuth kiblat = 360 - 650 30’ 21,34” = 2940 29’
38,74”
Menyiapkan data yang dibutuhkan untuk mencari sudut waktu matahari,
yakni waktu pengukuran kiblat, equation of time serta deklinasi pada waktu
tersebut. Waktu pengukuran mempengaruhi hasil dari sudut waktu matahari.
jika pengukuran pagi, maka sudut waktu matahari bernilai negatif.
Jika pengukuran sore hari, maka sudut waktu matahari
bernilai positif.
Contoh: kita akan mengukur kiblat pada 24 Oktober 2013 pukul 15.14
WIB (08.14 GMT)
Deklinasi matahari jam 8 : -11˚ 50’ 42”
Deklinasi matahari jam 9 : -11˚ 51’ 34”
Interpolasi pada deklinasi matahari jam 8.14 dengan rumus = -11˚ 50’ 42” + 0j 14m (-11˚ 51’ 34” - -11˚ 50’ 42” ) = -11˚ 50’
54,13”
Equation of time jam 8 : 0j 15m 50d
Equation of time jam 9 : 0j 15m 51d
Interpolasi pada equation of time jam 8.14 = 0j 15m
50d + 0j 14m (0j
15m 51d - 0j 15m
50d ) = 0j 15m 50,23d
Sudut waktu matahari (t) = (WD + eq – (BD – BT) / 15) – 12 x 15
= (15:14 + 0j 15m 50,23d – (105 -
1100 26’ 44,79”) / 15) – 12 x 15 = 570 54’ 18,29”
Menghitung arah matahari dan azimuth matahari.
Untuk menentukan arah matahari, kita gunakan kaidah sebagai
berikut:
Jika deklinasi (+), maka utara, jika deklinasi (-) maka selatan.
Jika pengukuran pagi, maka arahnya timur. Jika sore,
maka barat.
Selain itu, deklinasi juga mempengaruhi hasil dari arah matahari.
Jika deklinasi benilai negatif maka hasil dari arah matahari
akan bernilai negatif. Begitu juga saat deklinasi bernilai posistif.
Untuk menghitung arah matahari bisa menggunakan rumus sebagai
berikut:
Cotan AM = tan dek . cos LT / sin t – sin LT / tan t
Cotan AM = tan -11˚ 50’ 54,13” . cos -60 59’ 1,49” / sin
570 54’ 18,29” – sin -60 59’ 1,49” / tan 570 54’
18,29” = -800 22’ 38,29”. Karena deklinasi bernilai negatif dan
waktu pengukuran pada sore hari, maka arah matahari adalah 800 22’
38,29” dari selatan ke barat.
Menghitung Azimuth matahari.
Untuk menghitungnya diperlukan kaidah :
Jika arah matahari utara-timur, Azimuthnya = arah matahari
Jika selatan-timur = 90 + arah matahari.
Jika selatan-barat = 180 + arah matahari.
Jika utara-barat = 270 + arah matahari.
Karena arahnya selatan-barat maka Azimuth matahari = 180 + 800
22’ 38,29” = 2600 22’ 38,29”
Langkah terakhir adalah menghitung beda azimuth dari matahari dan
kiblat.
Dengan rumus:
Beda Azimuth = Azimuth kiblat – Azimuth matahari.
Jika hasilnya negatif, di tambah dengan 360.
Beda azimuth = 2940 29’ 38,74” - 2600 22’
38,29”= 340 07’ 00,46”.
Setelah mendapatkan nilai beda azimuth, kita terapkan pada Istiwa’aini.
Caranya sebagai berikut:
Gnomon atau tongkat istiwa’ yang berada di samping kita pas-kan
bayangan tongkat tersebut pada garis 1800. Setelah pas tinggal kita
arahkan benang ke nilai beda Azimuth. Itulah arah kiblat.
