Kiblat merupakan suatu hal yang sakral bagi pelaksanaan ibadah umat
Islam. Dalam sejarahnya, arah kiblat ini pernah mengalami perubahan. Dalam
beberapa riwayat disebutkan bahwa dulu Nabi Muhammad SAW salat menghadap ke
Baitul Maqdis, sebab waktu itu Baitul Maqdis kesuciannya masih terjaga, berbeda
dengan Ka’bah yang pada saat itu penuh dengan berhala. Namun saat Nabi Hijrah
ke Madinah, orang-orang Yahudi Madinah mengolok-olok agama Nabi karena mereka
menganggap bahwa Nabi Muhammad tiru-tiru kiblat mereka. Setelah kurang lebih 16
bulan Nabi berada di Madinah, beliau sangat rindu dengan kota Makkah. Beliau
selalu berdoa agar kiblat dipindahkan ke kota tersebut. Akhirnya turunlah surat
al-Baqoroh ayat 144 tentang perubahan arah kiblat ke arah yang di sukai yakni Makkah.
Kiblat yang terletak di kota Makkah disimbolkan dengan Ka’bah yang
berbentuk hampir kubus. Ka’bah teletak ditengah-tengah Masjidil Haram dengan
tinggi sekitar 13,10 meter. Ruangan dalam Ka’bah berukuran 13 x 9 meter dengan
ketebalan dinding Ka’bah setebal 1 meter serta tinggi lantainya 2,2 meter. Dari
masa ke masa Ka’bah telah mengalami banyak renovasi. Salah satu renovasi besar
adalah saat setelah banjir dan longsor melanda Ka’bah sekitar tahun 1039 H. Banjir
tersebut menggenangi Ka’bah hampir setengah dari tingginya. Saat banjir surut,
dinding barat dan timur Ka’bah runtuh. Setelah itu Ka’bah di bangun ulang
dengan menghancurkan seluruh dinding Ka’bah kecuali dinding yang ditempati
Hajar Aswad. Pembangunan tersebut dilakukan atas petunjuk Sultan Murad Khan
dari dinasti Utsmani. Rekonstruksi besar-besaran kembali dilakukan 400 tahun
setelahnya, yakni pada bulan Mei 1996 hingga Oktober 1996 oleh King Fahd bin
Abdul Aziz. Dari pembangunan tersebut, bagian yang masih asli hanya Hajar
Aswad.
Setelah kita bahas mengenai ma al-Qiblah, wa ma adroka mal
Qiblah, supaya tidak panjang dan lebar lagi, langsung saja kita bahas
tentang perhitungannya. Langkah-langkah untuk menghitung arah kiblat adalah
sebagai berikut:
Setelah data tersedia, hitung selisih bujur Makkah dan daerah (SBMD). Dalam menghitung SBMD tersebut ada beberapa kaidah atau permisalan, yaitu:
Untuk bujur timur (+), jika BT > BM, maka SBMD = BT – BM. Jika BT < BM, maka SBMD = BM – BT.
Untuk bujur barat (-), jika BT > 1400 10’ 25,06”, maka SBMD = 3600 + BT – BM. Jika BT < 1400 10’ 25,06”, maka SBMD = BM – BT. Untuk wilayah Indonesia karena memiliki bujur timur serta nilainya lebih besar dari bujur Ka’bah maka BT – BM.
Setelah menghitung SBMD, kita bisa hitung arah kiblat dengan menggunakan rumus cotan atau tan. Jika kita menggunakan rumus maka hasilnya diukur dari utara ke barat, jika menggunakan rumus tan hasilnya dari barat ke utara. Rumusnya sebagai berikut:
Cotan AQ = tan LM . cos LT / sin SBMD – sin LT / tan SBMD,
Tan AQ = tan LM . cos LT / sin SBMD – sin LT / tan SBMD.
Dalam menentukan arahnya perlu diperhatikan konsep sebagai berikut:
Jika BT > BM, atau BT < BM-180, maka arah barat, jika BM > BT, maka arah timur,
jika hasil tan atau cotan (+), maka utara, jika hasil tan atau cotan (-), maka
selatan.
Langkah terakhir adalah menghitung Azimuth kiblat, Azimuth sendiri
adalah nilai derajat yang diukur dari arah utara sejati ke arah jarum jam
(UTSB).
Sebagai contoh kita akan mengukur kiblat di Masjid Hidayaturrahim
Medalem. Data koordinat tempatnya adalah LT = -70 9’ 53,51”, BT =
1120 2’ 6,07”. Sedangkan untuk data koordinat Ka’bah ada beberapa
versi, kali ini kita gunakan versi KH. Slamet Hambali yakni LM = 210
25’ 21,04” dan BM = 390 34’ 34,33”.
SBMD = BT – BM = 1120 2’ 6,07” - 390 34’
34,33” = 720 27’ 31,74”.
Cotan AQ = tan LM . cos LT / sin SBMD – sin LT / tan SBMD
Cotan AQ = tan 210 25’ 21,04” . cos -70 9’
53,51” / sin 720 27’ 31,74” – sin -70 9’ 53,51” / tan 720
27’ 31,74” = 650 49’ 35,58” dari Utara ke Barat.
Jika menggunakan rumus tan, hasilnya sebagai berikut:
Tan AQ = tan 210 25’ 21,04” . cos -70 9’
53,51” / sin 720 27’ 31,74” – sin -70 9’ 53,51” / tan 720
27’ 31,74” = 240 10’ 24,42” dari Barat ke Utara.
Azimuth kiblatnya yang diukur dari titik utara yaitu:
360 - 650 49’ 35,58” = 2940 10’ 24,42” atau
jika menggunakan hasil dari tan adalah 270 + 240 10’ 24,42” = 2940
10’ 24,42”.
Dalam perhitungan tersebut kita biasanya membutuhkan alat bantu
yakni kalkulator. Untuk mendapatkan hasil yang benar berikut adalah cara pejet
kalkulator menggunakan kalkulator Casio fx-350 MS:
Shift Tan (tan 210 25’ 21,04” x
cos -70 9’ 53,51” / sin 720 27’ 31,74” – sin -70 9’
53,51” / tan 720 27’ 31,74”)x-1 untuk rumus Cotan.
Shift Tan (tan 210 25’ 21,04” x
cos -70 9’ 53,51” / sin 720 27’ 31,74” – sin -70 9’
53,51” / tan 720 27’ 31,74”) untuk rumus Tan.
